Melirik Pakaian Perang Nias Pada Zaman Dulu

0 1.607

Saya Chritofer Oktavianus Halawa menjabat sebagai Putra Bermasyarakat Kab. Nias Tahun 2017 akan menceritakan pengalaman saya di Desa Hilisimaetane Kab. Nias Selatan bersama Bang Herman Julius Harefa.

Saya dan bg Herman sangat bangga sekali dengan budaya kita yang penuh ciri khas yang unik, kita beruntung sekali bisa memakai baju perang yang di gunakan oleh para leluhur kita pada waktu zaman dulu.

Saya akan menceritakan sekilas tentang pakain perang para leluhur kami pada zaman dulu,

  • Nama : Oroba si’oli
  • Bentuk : Rompi Besi
  • Catatan : Rompi ini di buat dari lempeng seng yang dipergunakan oleh prajurit untuk melindungi tubuh mereka pada saat berperang dengan Ukuran; lebar 55,5 cm, tinggi 64 cm dan tebal 0.1 cm
  • Nama : Gari si so tago
  • Bentuk : Pedang
  • Catatan : Sebuah senjata pria golongan bangsawan yang sudah dewasa. Pada pangkal sarungnya di pasang sekumpulan benda-benda yang dianggap memiliki kesaktian: misalnya gigi, kuku buaya, gigi kuda, gigi dan kuku harimau, dll. Matanya terbuat dari besi dimana kedua sisinya telah ditajamkan. Senjata ini sering dipergunakan untuk menebas musuh yang berjumlah banyak. Ukuran panjang 65,60 cm
  • Nama : Baluse Rane
  • Bentuk : Perisai /Tameng
  • Catatan : Perisai untuk berperang yang terbuat dari kayu ringan. Pada pertengahan bagian bawah telah dilubangi dan diberi tempat pegangan. Pada bagian belakang terdapat ukiran ular dengan panjang 116 cm, lebar 38 cm dan tebal 2 cm
  • Nama : Toho Baluse
  • Bentuk : Tombak
  • Catatan : Tombol kebesaran bangsawan tingginya di buat dari pohon nibung sepanjang 222,9 cm dengan diameter 2,5 cm dan matanya setebal 0,33 cm yang terbuat dari besi yang ditancapkan pada bagian atas dari pada tiang
  • Nama : Kalabubu
  • Bentuk : Kalung
  • Catatan : Kalung yang terbuat dari tempurung kelapa yang sudah berumur tua. Setelah dibersihkan, tempurung tersebeut dipotong melingkar kecil-kecil dan pada pertengahannya dilubangi, kemudian disusun pada sebatang kuningan atau logam lainnya mengikuti alur lubang hingga membentuk lingkaran berdiameter 23,5 cm. Benda ini dipergunakan sebagai perhiasan dan pelindung leher pada saat perang

Selain itu dahulu kala masyarakat Nias memiliki kebiasaan berperang melawan sesama suku yang ada di Pulau Nias. Mereka berperang melawan antar desa dan biasanya penyebab terjadinya peperangan itu dikarenakan batas lahan atau juga kerena memperebutkan kekuasaan. Suku Nias juga dapat dikategorikan sebagai salah satu bangsa Sparta dengan kebiasaan berperang, sering mengambil kepala manusia dan selanjutnya dijadikan sebagai salah satu ritual adat bagi masyarakat Nias pada saat penguburan seorang bangsawan yang telah meninggal.

Suku Nias pada zaman dahulu merupakan suku yang sangat pintar dan cerdik dalam strategi berperang. Para prajurit desa pada masa itu di bekali latihan fisik yang kuat seperti latihan bela diri, silat, serta latihan fisik Hombo Batu.

Pada zaman sekarang ini, tradisi berperang antara suku yang ada di pulau Nias sudah lama di tinggalkan seiring masuknya ajaran agama di Pulau Nias.

Saya sebagai Putra Bermasyarakat Kab.Nias mengharapkan kepada kita semuanya, marilah kita menjaga dan melestarikan semua peninggalan-peninggalan bersejarah para leluhur dahulu, supaya kita dapat mengenangnya. Akhir kata saya Chritofer Oktavianus Halawa sebagai Putra Bermasyarakat Tahun 2017 mengucapkan Terima Kasih Ya’ahowu.

Be Smart, Read More Artikel dari Penulis

Comments

Loading...