Mendulang Segenggam Harapan di Desa Somolo-Molo

0 481

Somolo-Molo, Kabupaten Nias. Hari itu ada yang berbeda. Langkah-langkah kecil beraroma semangat mulai mengalihkan perhatian. Baju lusuh penuh bekas sadapan karet anak-anak desa somolo-molo tanpa sadar membiaskan tatapan bangga. Entah seperti ada magnet yang melengkungkan senyum di wajah saat menatap tawa bahagia mereka, sangat tulus dan bermakna. Ada harap yang mengalir ketika melihat kesedihan mereka, berhembus keramahan saat mendengar canda mereka dan terbesit ketertarikan untuk mengenal mereka lebih dekat.

Kami mulai mengajak berbicara satu sama lain, akrab dan hangat. Tersipu malu ketika pertanyaan yang dianggap geli mulai diajukan. Memperkenalkan diri satu sama lain seraya menjawab segelintir pertanyaan ringan dari kami. Nama, tempat tinggal, umur, sekolah, keluarga, pekerjaan di kebun, begitu kira-kira. Tari, Erni, Fani, Eka, Masha, Anu, Darling, Wiwin, Darman, dan lainnya. Mereka tinggal di desa tempat kami. Seperti anak-anak lainnya kebanyakan, bermain, menyadap karet, mencari batu gunung, mencari buah-buahan di kebun dan tak banyak dari mereka yang bisa merasakan nikmatnyabangku sekolah.

Waktu terhenti sesaat, sembari saya mengingat kejadian di hari-hari yang telah lalu, mungkin perihal pendidikan. Terlepas dari bangku sekolah formal dengan papan tulis hitam putih, atau guru yang berdiri di depan kelas dengan seragam lengkap dan tatapannya yang gagah. Juga bukan mengenai pendidikan dengan sekelumit kurikulum yang terus diperdebatkan tiada henti, tahun demi tahun menyusun berbagai inovasi dan improvisasi, setumpuk tugas-tugas dan ujian sekolah. Ini tentang mengajak mereka untuk melihat betapa mewahnya alam pendidikan, membuka cakrawala, setidaknya membuat mereka sadar bahwa hidup bukan sekedar mengisi perut, mencari pundi-pundi kehidupan dan lainnya. Tapi tentang dunia luar yang belum tersingkap karena keterbatasan. Sedikit memberi semangat untuk belajar dan berbahagia. Mengajarkan toleransi dan bumbu-bumbu kehidupan yang akan dihadapi.

Saya belum menjadi pendidik, terlebih pengajar bagi mereka. Hanya sedikit ingin berbagi apa yang saya miliki. Mungkin ingin bertukar senyum dengan adik-adik yang tiap hari menengok kami di puskesmas. Terbersit rasa iba di hati ketika tahu tidak semua dari mereka bisa berseragam putih merah di gedung-gedung pendidikan. Hari itu saya memutuskan untuk menjadi sosok yang bermanfaat di depan mereka. Membagikan sedikit ilmu yang saya miliki, mungkin hanya sekedar untuk mendengar canda dan tawa mereka.

Disini, di desa somolo-molo masih menggantungkan kepercayaan bahwa semakin panjang garis keturunan maka akan semakin baik kehidupan mereka, terlebih laki-laki yang menjadi generasi penerus marga keluarga. Beranjak dari hal tersebut, jumlah anak-anak di tempat kami tergolong melimpah dan sedikit berhamburan bahkan terpaksa ada yang tidak mendapat perhatian berlebih dari keluarganya. Ditinggal di rumah karena pekerjaan berkebun sehingga memaksa mereka untuk dewasa dan mandiri lebih cepat dari usianya. Menurut pandanganku, anak-anak tetaplah anak-anak. Di siklus kehidupan kita sudah ditetapkan bahwa ada masanya individu merasakan dunia anak-anak yang riang dan bahagia kemudian berlanjut ke kehidupan selanjutnya. Demikian jika ingin tetap teratur, kehidupan harus berjalan sesuai semestinya, tidak dikurangi juga dilebihkan. Natural, apa adanya. Beranjak dari pemahaman itu, sudah semestinya ada sosok yang bisa menjaga dunia anak-anak tetap manis dan menyenangkan.

Setiap akhir pekan, segorombolan adik-adik dengan berbagai warna penampilan datang ke tempat kami. Tentunya seusai menuntaskan urusannya dengan Tuhan di gereja. Adik-adik kami tergolong cukup rajin beribadah setiap minggunya dengan berpakaian manis diiringi langkah yang meriah dan suara yang memancarkan semangat. Saat matahari tengah bertengger tegak lurus di atas kepala kami, disaat itulah kelas kecil kami dimulai. Satu per satu mulai datang dengan buku tak bersampul di bungkus kantong plastik pengganti tas sekolah. Ada yang berpakain rapi namun tak sedikit pula masih memakai pakaian bekas menyadap karet kemarin, bergetah dan sedikit beraroma khas karet.

Pada awalnya hanya berjumlah sepuluh anak yang ikut kelas belajar kami, namun setiap minggunya bertambah hingga sekitar dua pulah orang. Tidak seperti kelas-kelas belajar di sekolah formal ataupun sekolah alernatif pada umumnya. Kelas yang saya buat hanya sekedar mengumpulkan adik-adik dan membagikan sedikit ilmu yang saya miliki,. Setidaknya adik-adik bisa berhitung dan mengenal elegannya bahasa penyatu dunia. Di awal pembelajaran, kuselipkan sedikit motivasi agar berani bermimpi dan bercita-cita setinggi mungkin, setidaknya masih tidak ada batasan dan larangan untuk melakukan hal tersebut. Dan yang paling menggelikan ketika beberapa diantara mereka masih bercita-cita sebatas profesi yang sering mereka lihat, pengepul karet ataupun kepala camat, miris rasanya.

Namun ada juga yang berani bermimpi untuk menjadi seorang presiden ataupun menjadi pahlawan seperti yang biasa mereka lihat di televisi. Cukup mengagumkan jika seorang anak berani bermimpi untuk menjadi sosok penolong dan bermanfaat bagi yang lain. Makin lama, saya makin tertarik dengan adik-adik di desa kami. Ada dunia mimpi di dalam kepala mereka yang terkubur di alam keterbatasan. Takut untuk sekedar dilafalkan atau diperlihatkan kepada orang lain. Tiba-tiba saya terpikir dengan anak-anak di perkotaan yang telah mengenal kecanggihan gadget dan teknologi, menikmati segala akses kemudahan yang justru mengikis dunia anak-anak mereka, permainan tradisional sudah dilupakan dan menjadi asing bagi mereka. Bertukar nomor, saling memamerkan kecanggihan gadget mereka, berfoto, ataupun internetan saat jam pelajaran dan lainnya yang membuat mereka terlihat sangat menyedihkan.

Hal tersebut ungguh jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak disini, di salah satu bagian terpencil di Pulau Nias. Sebagai anak gunung yang sudah terlatih fisik dan mental.

Kemudian apa yang membuat saya ingin memperlihatkan kepada mereka dunia luar dari apa yang biasa ada di lingkungan mereka ialah sekadar menggugah semangat mereka agar berani bercita-cita dan mengadu nasib agar kehidupan mereka lebih baik dari sebelumnya. Tanpa melupakan nilai dan sopan santun yang selalu di tanamkan oleh leluhur mereka, saling menghargai dan membantu satu sama lain.

Di desa kami, satu pelajaran yang membuat hati saya berdecak kagum ialah kebiasaan untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Tidak ada perselisihan budaya, suku, ras terlebih agama. Semuanya terjalin erat dan saling mengikat dalam bingkai ke-bhineka tunggal ika-an. Saya muslim dan bersuku bugis makassar sulawesi, namun sampai sekarang masih bisa hidup akur dan berdampingan dengan masyarakat nias yang kebanyakan beragama nasrani. Saling menghargai kebiasaan dan cara beribadah masing-masing serta menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa toleransi.

Kemudian hal lain yang cukup menarik perhatian saya ialah keramahan dan kesantunan para masyarakat desa saat berjumpa atau sekadar berpapasan, saling mengucap salam kebanggaan mereka “Ya’ahowu” yang membuat kami merasa di terima di dalam keluarga peradaban mereka. Tua, muda, kaya, miskin, petani karet, pegawai camat, nasrani, muslim, semua melontarkan dan menyebarkan senyum mereka dengan sapaan yang menyimpan kekuatan penyersatu itu. Disini di Tano Niha, saya tidak merasa asing di tengah keberagaman dan perbedaan yang ada. Kebudayaan yang unik, pulau yang eksotis, suku dan agama yang beragam, membuat saya nyaman untuk berlama-lama disini. Setidaknya kurang dua tahun lagi, kami tim nusantara sehat akan berjuang bersama-sama masyarakat untuk membuat kecamatan somolo-molo lebih baik lagi baik dari segi pelayanan kesehatan, maupun kebiasaan berprilaku hidup sehat dan bersih. Serta menjalin kebersamaan dengan masyarakat lebih baik lagi. Terlebih menyuntikan semangat dan motivasi belajar untuk anak-anak di desa kami.

 

Musdalifah Isnaini

 

 

Be Smart, Read More Artikel dari Penulis

Comments

Loading...