ORANG-ORANG

Cerpen

0 492

Banyak orang sulit membaca situasi. Menganggap semuanya berjalan dengan baik, padahal ada banyak ketidakberesan. Itulah orang bodoh. Beberapa orang juga bisa melihat sesuatu yang baik namun membiarkannya begitu saja seolah-olah segala sesuatu berjalan dengan baik. Itulah orang jahat. Dan bisa kupastikan bahwa orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku ini adalah kumpulan orang bodoh atau orang jahat. Mereka tidak tahu -atau sengaja membiarkanku- berdiri di atas kepalsuan. Bersikap biasa saja seolah wanita yang tengah berdiri ini baik-baik saja. Sebegitu mudahnyakah mereka tertipu? Hanya dengan senyum yang mengambang lebar, mereka lewat dan tersenyum dan menyapa begitu saja? Benar-benar tertipukah? Atau sama sekali tidak peduli? Ah, orang-orang ini hanya menambah kemarahan dalam hatiku.

Dan kau! Sampai berapa lama lagi aku harus menunggumu? Tak tahukah kau kalau aku begitu lelah berdiri sejak tadi? Atau kau sengaja membiarkanku berlelah seperti ini? Ayolah, mengapa kau tak kunjung datang? Harusnya kau sudah tiba dan membawakanku seikat kembang merah! Mengapa kau membiarkan hatiku menimbulkan prasangka-prasangka buruk yang justru menambah pundi-pundi dosaku? Datanglah segera! Bukankah kau yang telah berjanji akan menemuiku? Jadi jangan salahkan aku. Kau sendiri yang menjadikan aku seorang pemaksa saat ini. Janji itulah yang sedang kupaksa kau untuk menepatinya.

Tapi baiklah. Tidak adil rasanya jika aku segera mengutukmu hanya karena aku sudah menunggu selama tiga jam. Hari saja masih punya banyak waktu. Kuberi kau waktu tiga jam lagi. Aku akan menunggumu sampai tiga jam ke depan. Dan kalau kau tak kunjung datang, kurasa kaulah yang akan bertanggung jawab jika aku menyamaratakan semua laki-laki di dunia ini. Datanglah selama tiga jam ini. Sembari aku berdiri di hadapan orang-orang bodoh dan jahat ini, biarkanlah aku mengenang secuil kisah kita yang telah lalu.

***

Aku berhutang terima kasih kepada almamater yang telah mempertemukan kita. Kampus itu telah menjadi saksi bisu kekagumanku padamu. Pertemuan itu bermula ketika para senior sialan itu menggangguku. Seperti biasa, junior-junior baru seperti kita memang menjadi bulan-bulanan yang empuk bagi mereka. Senior-senior itu menunjukkan tajinya atau berjalan-jalan hanya untuk sekedar tebar pesona. Dan kau tahu bagian buruknya? Wajahku yang cukup menonjol menjadikanku sebagai salah satu mangsa mereka. Baik perempuan atau laki-laki, senior-senior itu cukup mengawasi ku. Bedanya, yang satu kelompok memandangiku dengan kagum. Dan yang lainnya memandangi ku dengan sinis. Ya, kau boleh mencapku sebagi orang yang over-pd. Tapi bukankah begitu nyatanya? Kecantikan memang anugerah. Sekaligus beban.

Klimaksnya ketika mereka mengerumuni aku di hari akhir kita di ospek. Kedisiplinan -kekejaman- mereka naik berkali lipat. Orang-orang itu mencari perkara-perkara remeh untuk menjadikanku remah-remah di hadapan mereka. Teriakan-teriakan dengan durasi yang cukup lama itu akhirnya mengalahkan aku. Aku menangis. Sialan! Manusia-manusia itu masih belum puas! Air mataku semakin jatuh dengan hangat. Hingga sebuah teriakan mengejutkan kami semua.

“Cukup!”

Siapa yang berani berbicara seperti itu? Mata kami segera menyisir kumpulan anak-anak baru. Kami menemukanmu sedang tertunduk. Dengan suara gemetar kau akhirnya melanjutkan “Maaf, Kak. Saya salah ngomong”.

“Lantas kau tadi ingin berbicara apa?”, mereka mulai berteriak mengerumunimu. Dengan banyak berblablabla yang tidak masuk akal, kau tetap saja salah. Ingatkan kalau senior tidak pernah salah dan kalah? Dengan hukuman yang sama tidak masuk akalnya, kau akhirnya menjadi badut kala itu. Bahan tertawaan yang membuat mereka terbahak. Dengan sisa air mata di wajahku, diam-diam aku pun tersenyum. Mengapa ada orang jenis ini?

Di kampus yang sama. Jurusan yang sama. Dan di kelas yang sama. Harusnya kami cukup mengenalmu. Namun kau termasuk pria yang tertutup. Malu-malu ketika disapa. Wajar saja jika kau hampir tak dikenal. Kau tak pandai bergaul dan bukan bintang. Belum lagi perutmu besar, kulitmu gelap, dan hidungmu pesek. Ya ya ya.. Kau boleh menganggapku orang sombong. Tapi bukankah begitu nyatanya? Kau benar-benar tak menarik untuk dibicarakan.

Hingga akhirnya dalam satu mata kuliah, kita gabung dalam kelompok yang sama. Mulanya akupun ikut takut-takut. Juga malu-malu. Tapi percakapan singkat kita kala itu membuka mataku. Kau mulai menarik untuk diperhatikan. Ada hal yang berbeda darimu. Kau berusaha ramah pada semua orang, kau menghormati perempuan, dan kau punya mimpi. Kukira semua laki-laki itu brengsek. Tapi tidak denganmu.

Kau mulai membuatku nyaman. Dimana ada kau, orang-orang akan memastikan bahwa aku juga ada di situ. Singkat cerita, bulan kini merindukan punuk. Orang-orang tak habis pikir mengapa kau begitu dekat denganku. Mereka bilang kalau kau sudah memeletku. Haha. Tidak begitu. Akupun memakai akal ketika aku memutuskan untuk mencintaimu. Aku tidak tergila-gila begitu saja padamu. Akupun punya alasan untuk mencintaimu.

Namun kau tahu bagian buruknya? Aku bahkan belum pernah mendengarkan kau mengucap cinta. Padahal aku begitu yakin bahwa kau pun menaruh rasa padaku. Kau jelas menyukai perempuan. Kau jelas tak memiliki kekasih. Dan aku tahu kau menyukaiku. Tatapan dan gerak-gerikmu yang menjadi saksi.

Tapi kau terlalu bodoh. Atau pengecut. Masakan aku yang memulainya? Ya..ya..ya.. Perempuan memang harus beremansipasi. Tapi aku terlalu gengsi untuk bagian ini.

Hingga perjumpaan terakhir kita yang begitu kikuk. Kau mengucapkan sesuatu hal yang membuat hatiku pedih. “Semoga sukses ya..” What? Hanya itu?

“Ia.. Semoga sukses juga buatmu”, kataku pura-pura tidak kesal sambil memberikanmu sebuket mawar merah.

“Mengapa memberiku mawar merah?”

Aku berblablabla mengarang filosofi mawar untuk memberimu kode tentang hubungan kita yang tak jelas ini. Namun kau tetap bodoh. Atau jahat. Membiarkan blablablaku begitu saja berlalu. Setelah mengucapkan beberapa kalimat perpisahan, kau berbalik pulang. Punggungmu kupandangi sampai tak terlihat lagi. Berharap kau berbalik dan mengucapkan sesuatu yang membuat aku berdebar. Tapi tidak. Punggungmu semakin jauh dan menghilang.

***

Hampir dua tahun sudah berlalu. Aku masih suka menjadikanmu sebagai bahan penelitianku. Semua media sosialmu kusisir habis. Tapi kau tetap seperti dulu. Tak banyak bicara di dunia nyata dan dunia maya. Bahkan tak pernah menyapaku. Kau benar-benar menyebalkan.

Setelah berpikir banyak kali, aku akhirnya membuat keputusan penting. Minggu lalu aku mengirimimu sebuah pesan. Dan kau menyanggupinya. Kau akan temui aku hari ini. Kaulah yang sedang kutunggu saat ini. Lelaki berkulit gelap, dengan perut buncit, dan hidung pesek.

“Hai, Las. Kau masih saja suka melamun”

“Gor! Kau datang!”, jelas aku bersuara dengan girang. Pria itu telah berubah. Ia semakin terlihat dewasa. Perutnya hampir tidak terlihat buncit. Kulitnya hampir tak gelap. Meski hidungnya tetap pesek.

“Ini untukmu”, ia memberiku seikat mawar merah sesuai dengan permintaanku minggu lalu.

“Kukira kau tak datang”

“Ya,, bukankah aku sudah berjanji? Aku tak menyangka kau akan menikah”.

“Hehe. Lantas kapan kau akan menikah pula?”

“Hingga ada seseorang yang mencintaiku”.

Bodoh. Apa kau tak melihat kalau aku menyukaimu dari dulu? Harusnya kau yang berdiri di sampingku saat ini.

Aku bisa melihat tatapanmu. Tatapan kehilangan. Maafkan aku. Pria di sebelahku telah lebih dahulu mengucapkan cinta padaku. Tujuh tahun menunggu. Bukankah aku berhak untuk mencoba pindah hati?

Hari itu, pesta pernikahanku dilangsungkan. Semua berjalan mengalir begitu saja. Tak ada yang curiga dengan nada riang suaraku terhadap pria yang tak dikenal itu. Tak ada yang curiga terhadap tatapan sendu pria yang tak dikenal itu. Semua berjalan begitu saja. Menganggap segala sesuatu baik. Ah orang-orang bodoh, termasuk lelaki itu. Mengapa tak mampu membaca hati dan wajahku? Ah orang-orang jahat, termasuk lelaki itu. Kalau sudah tahu isi hatiku, mengapa membiarkanku begitu saja. Mereka kumpulan orang-orang bodoh dan jahat. Namun orang yang paling buruk di atas keduanya adalah orang-orang yang tahu dirinya sedang tidak baik-baik, namun justru menampilkan sesuatu yang kelihatan baik-baik saja. Orang-orang seperti itulah yang pada akhirnya memunculkan orang-orang bodoh dan orang-orang jahat. Itu aku.

 

Be Smart, Read More Artikel dari Penulis

Comments

Loading...