Pemimpin dan Naluri Kepemimpinan : Suatu Permenungan

0 633

Penulis membatasi peristilahan pemimpin dengan kecenderungan pada pemimpin bangsa/kelompok masyarakat. Tidak heran beberapa contoh yang penulis angkat, adalah contoh pemimpin bangsa/ kelompok masyarakat yang pernah ada. Sementara definisi naluri merujuk pada jiwa, ketertarikan, bahkan bakat (bawaan).

Bagaimana tidak, penulis beralasan dan tertarik untuk mengutarakan pandangan tentang pemimpin secara hakiki. Hasil permenungan akan dinamika peradaban umat manusia, dalam kepemimpinan Pemimpin-pemimpinnya, termasuk Indonesia. Banyak yang mengaku bahwa mereka adalah pemimpin yang berhasil dan juga pemimpin yang sesungguhnya, atau bahkan mereka “merasa” lebih layak memimpin dibandingkan yang lain. Sementara itu, ada pula yang bekerja dalam diam dan sunyi, “terpanggil” menolong kaum yang lemah, jauh dari hiruk pikuk kekuasaan, dengan tidak sengaja “tampil” sebagai pemimpin yang dirindu.

Penulis lahir dan parsial tumbuh di era Soeharto, yang pada saat itu mendoktrinasi dan mengklaim kejayaan Indonesia, dan pada akhirnya beliau lengser karena tak dirindu lagi oleh bangsanya. Sejak itu, munculnya polarisasi dukungan untuk menggiring calon-calon pemimpin daerah dan pemimpin nasional hingga saat ini, yang berdampak pada hilangnya kesadaran bahwa sesuatu yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah.

Berdasarkan pengantar di atas, muncullah beberapa pertanyaan, sungguhkah pemimpin itu butuh dukungan? Seberapa pentingkah kehadiran pemimpin tersebut?

Hiruk pikuk perpolitikan di tanah air menghadirkan pola berpikir yang sudah tidak sehat lagi, oleh calon pemimpin dan supporternya. Ditambah lagi, di sana sini, hadirnya media yag tidak lagi terkontrol, justru cenderung memperkeruh suasana bahkan menyediakan informasi yang sudah tidak netral lagi. Independensi penulis beritapun dipertanyakan, karena terikat akan kepentingan penyandang dananya.
Pemimpin benarkah dipilih ataukah dijanjikan (atau bahkan dinubuatkan)?

Sejarah mencatat bahwa beragamnya gaya kepemimpinan dengan berbagai motivasi. Di kitab suci (Alkitab), hampir semua pemimpin umat (baca: Nabi) adalah nubuatan dari Ilahi. Bagaimana Musa, seorang yang terlahir dari keturunan Israel (budak di Tanah Mesir), diangkat anak oleh Putri Raja Firaun, yang selanjutnya ditetapkan Tuhan sebagai pemimpin Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Demikian juga Daud, anak bungsu yang sering tidak dilirik dan dianggap lemah, justru ditetapkan Tuhan sebagai Raja Israel, dari dari keturunannyalah lahir Sang Juruselamat Dunia Kristus Yesus, sebagai Firman Allah yang menjadi manusia. Kepemimpinan Yesus, adalah yang sempurna, mengedepankan kasih melalui kesehariannya melakukan keajaiban-keajaiban dan puncaknya yaitu pada pengorbanan diri-Nya di kayu salib. Adalah benar bahwa Keilahian Yesus tidak dapat dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh umat ciptaan. Akan tetapi keteladanan yang ditunjukkannya adalah petunjuk bagi pemimpin-pemimpin bangsa layaknya.

Mahatma Gandhi, tokoh paling cermelang di era perintisan kemerdekaan India, mengedepankan cinta damai dalam mengapproach musuh-musuhnya, hingga kemerdekaan diraih. Benarkah dia tulus? 100% iya, dia tidak haus kekuasaan, justru memberikan kesempatan kepada murid-muridnya atau pengikut-pengikutnya untuk mengurus (baca: memimpin) Negara. Kisah Bunda Teresa, yang adalah seorang Rohaniawan Katolik di Kalkuta, India, juga mengajarkan bahwa kasih adalah jawaban akan permasalahan yang ada. Bunda Teresa hingga akhirnya hayatnya tidak menikmati apa yang ditawarkan dunia kepadanya, tetapi dia konsentrasi memikirkan, membantu dan hidup bersama fakir miskin dan orang-orang yang menderita sakit dan lapar. Kedua tokoh ini, Gandhi dan Bunda Teresa adalah contoh keteladanan yang berbasis kasih, selaras dengan Ketokohan Yesus Kristus.

Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, apakah Pemimpin itu butuh dukungan? Penulis bisa menyebutnya ya, ketika pemimpin itu tidak dirindu, dia butuh dukungan sebisa mungkin. Sementara pemimpin yang sejati adalah dirindu dan dinantikan dalam bentuk iman percaya. Sulit untuk menerima kenyataan sekarang dengan gaya Pemimpin yang sejati yang dirindu ini, karena era itu tampaknya berlaku pada negara dengan asas Teokrasi, seperti pada masa para nabi. Tetapi jika dipahami, bahwa pemimpin itu sebenarnya ada, akan tetapi dinamika perpolitikan atau sosial budaya tidak memberikan ruang mereka untuk dikenal publik. Tipe pemimpin yang sejati seperti ini, tidak menggebu-gebu untuk ditetapkan menjadi pemimpin, akan tetapi mereka-mereka ini hadir sebagai solusi dalam permasalahan perikehidupan manusia. Bagi mereka, tidak lebih penting merk Pemimpin melekat dibandingkan aksi kepemimpinan yang mereka sebarkan.

Alih-alih gaya kepemimpinan yang menggebu-gebu, sejarah mencatat bahwa haus kekuasaan hanyalah mendatangkan kediktatoran, dan kediktatoran hanyalah mendatangkan celaka. Belajar dari sejarah dunia, tokoh-tokoh genocide (kudeta) terhadap pemerintahan yang ada sebelumnya seperti Bennito Mussolini dengan Fasismenya di Italia, Lenin-Stalin dengan Komunisnya di Rusia, Adolf Hitler dengan Tentara Nazi-nya di Jerman, Mao Tse Tung dengan proyek “konyol”-nya lompatan jauh ke depan, bahkan masih hangat di pikiran kita gaya kepemimpinan diktator Saddam Husein di Irak dan Kolonel Moammar al-Qaddafi di Afganistan berakhir pada colabs-nya Negara yang mereka pimpin. Kediktatoran mereka justru memakan korban dari kalangan bangsanya sendiri, dan bangsanya sendiri yang ikut menjatuhkannya serta akhirnya mereka-mereka ini tercatat sebagai orang yang paling mengerikan dalam peradaban umat manusia.

Pengalaman akan dinamika perikehidupan manusia di dunia, sebenarnya cukup memberikan kesempatan kita untuk bercermin. Hampir 73 tahun Indonesia merdeka, kemajuan masih dianggap stagnant. Seolah-olah kita maju selangkah, tetapi mundur juga selangkah, diakibatkan oleh sistem yang terlalu rumit dan terlalu konsentrasi pada kepentingan-kepentingan sesaat, bukan justru kepentingan berkelanjutan. Carut marutnya perpolitikan menghantarkan masyarakat untuk antipati terhadap kepemimpinan sang penguasa. Sejarah Indonesia mencatat, Presiden seumur hidup Ir. Soekarno dilengserkan secara halus, Jend. Soeharto diturunkan setelah 32 tahun pemerintahannya, Prof. B.J. Habibie memerintah karena kecelakan politik, K.H. Abdurrahman Wahid dan Megawati hadir sebagai dampak pengibaran bendera reformasi, Dr. Susilo Bambang Yudoyhono terpilih langsung oleh rakyat dan selama 10 tahun memerintah dan sekarang seorang Ir. Joko Widodo tampil dengan gaya yang sederhana, tetapi terus menerus dihujani isu negatif oleh lawan-lawan politiknya. Apa yang bisa kita petik dari sejarah kepemimpinan di negara kita? Relevankah dengan cita-cita kemerdekaan yang sebenarnya?

Akhir-akhir ini, suhu perpolitikan di Tanah Air (baca: Indonesia) cenderung tidak sehat. Seperti yang saya uraikan di atas, terjadi pemisahan kelompok kepentingan, yang sudah out of track dari ideologi negara, Pancasila. Yang haruslah dipahami bahwa permasalahan bangsa, tidak dapat diselesaikan hanya dengan debat-debat yang bersikuku dengan pengertian sendiri, tetapi harus dipahami bahwa dukungan dan persatuan seluruh komponenlah yang dapat mengangkatnya bersama-sama. Sementara gaya kepemimpinan yang ditawarkan oleh “penguasa” sekarang ini, sudah memberikan harapan cerah akan pembangunan yang adil dan merata, yang tidak pernah ditawarkan oleh “penguasa-penguasa” sebelumnya.

Masyarakat perlu dididik

Dinamika politik bangsa sekarang ini, justru didominasi oleh keikutsertaan generasi muda dalam “berkampanye”. Dengan “buas”-nya, banyak generasi muda yang belum terlalu paham akan “sense” perpolitikan, menjadi korban untuk dibuat terprovokatori. Isu berbasis SARA (suku, agama dan ras) pun menjad trending untuk menghalalkan kepentingan politik dan kekuasaan elit tertentu. Kalau dibiarkan, generasi muda ini semakin tidak tercerahkan, dan konsekuensinya mereka justru potensial menularkan gaya berpolitik praktis, dan membawa arah perjuangan bangsa menuju kekacauan.

Masyarakat, utamanya: generasi muda haruslah dididik, di tengah-tengah perkembangan dan modernisasi sebagai dampak ruahnya arus globalisasi. Pemahaman akan ideologi Pancasila yang berbhineka tunggal ika perlu diperkuat lagi, secara hakiki. Terlebih-lebih bila generasi muda sangat penting untuk berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan bangsa.

Generasi muda sebaiknya mulai belajar akan jiwa kepemimpinan yang sejati bukan sekadar ingin menjadi pemimpin. Merujuk pernyataan penulis di atas, bahwa pemimpin sejati itu ada dan hadir sebagai “nubuatan”, tetapi jiwa kepemimpinan itu sebagai naluri. Memahami ini memang tidak mudah, tetapi bisa dimaknai melalui pengenalan akan pengalaman perjuangan bangsa-bangsa di dunia. Kehadiran pemimpin dengan jiwa kepemimpinan itu sangat dibutuhkan.

Perlu dicatat bahwa pemimpin dengan jiwa kepemimpinan naluriah inilah yang dirindu, bukan pemimpin yang ambisi akan kekuasaan. Akses hadirnya pemimpin yang sejati, sudah saatnya dibuka lebar karena ini adalah kebutuhan dan jawaban akan permasalahan yang ada. Pemimpin yang naluriah tidak gentar dengan intrik kepentingan pribadi maupun golongannya, tetapi memasang badannya untuk kemajuan bangsanya, tanpa pamrih. Akankah pemimpin dengan jiwa kepemimpinan naluriah ini hadir di tengah-tengah bangsa kita? Mari kita jawab dalam hati masing-masing.

 

Penulis

Sun Theo C.L. Ndruru
(mendalami sains, mencintai sejarah)

Be Smart, Read More Artikel dari Penulis

Comments

Loading...