SEPOTONG CINTA DI MBAHO GA MIRA

0 748

Tanah tak bertuan!, kesan awal setelah kaki ini menapak dilokasi itu. Bagaimana tidak, matahari tak diberi ruang untuk mengirimkan cahayanya. Congkaknya belukar dan pohon tak terawat membentengi kawasan itu agar memahami betapa mahalnya terang. Belukar berduri bahkan seperti preman penguasa kawasan, tidak pandang bulu dan beringas menyabet tubuh apabila lalai dan terlena. Rute jalan yang dipaksakan akibat kaki manusia terlalu lama tidak pernah singgah.

Tahun 2016 lalu, ketika sang waktu mempertemukan kami disana. Hampir tak tersentuh cinta dan dia kokoh bagai pertapa yang terasing dari dunia luar. Gembok – gembok penolakan berada disetiap sudut kawasannya, seakan trauma masa lalu memaksanya menutup diri dalam waktu tak berbatas. Yah, Mbaho ga Mira namanya. Disana kami temukan sepotong cinta yang terselubung diantara tebing, dalam aliran air terjun dan dalam kelokan gua – gua gelap.

Lokasi Mbaho ga Mira berada di Desa Fadoro Hilimbowo, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa Kota Gunungsitoli. Jarak tempuh dari pusat kota sekitar 8 km atau 30 menit perjalanan. Setelah kendaraan diparkirkan dipemukiman penduduk, kita akan berjalan kaki sejauh 15 menit perjalanan. Apa yang ada di Mbaho ga Mira? Ya! Kami temukan sepotong cinta Tuhan disana! Goa Vertikal bernama Togi Katawaena berada terpisah dengan lokasi Air Terjun dan gua horizontalnya.

Air terjunnya berada di celah kedua tebing tinggi yang berdekatan, kubah mini yang menepi sendiri. Sampai ke air terjun ini, kita seakan diuji dengan memanjat tebing batu melawan arus air yang akan menyusuri gua-gua dibawahnya. Dia tidak gampangan, niat yang sungguh barulah memberikan kita sajian kuasa Pencipta menikmati karyaNya. Kolamnya kecil, kedalaman orang dewasa dengan air yang sejuk dan segar. Lebar maupun panjang tidak bisa diubah, karena air terjun ini terselip dicelah tebing bukit yang terbelah dengan bebatuan keras di kiri kanannya.

Gua horizontalnya? Berada meliuk liuk dengan beberapa pintu masuk maupun pintu keluar yang terkadang menghantarkan aliran air apabila saatnya meluap. Rutenya memuaskan sanubari yang terdalam, menyadarkan kita akan besarnya kuasa sang Pencipta yang memberi nafas kehidupan di semesta ini.

Konon, warga berkisah dalam cengkrama menepis malam diantara bara api yang memberikan kehangatan. Dahulu, ada seorang gadis remaja yang terpeleset jatuh dan meninggal di lokasi Mbaho ga Mira. Disana ada jembatan batu yang menyatukan antara kedua tebing bukit yang terbelah sebagai jalan utama yang digunakan oleh warga untuk sampai di kebun atau ladangnya serta pulang kerumah ketika petang datang. Kisah cerita berakhir tragis, kematian gadis remaja itu merubah pola hidup masyarakat yang akhirnya menelantarkan kawasan Mbaho ga Mira yang telah menelan korban.

Kisah itu telah terjadi berpuluh – puluh tahun lalu, menyisakan duka dalam dan menaburkan cerita dongeng berbaur mistis pada setiap anak sebagai pengingat dan peringatan dari orang tua. Bahkan raut wajah cemas tampak jelas ketika di tahun 2016, sebuah Komunitas Pecinta Alam yaitu TAPAK KAKI memulai karya dan perannya dengan membuka kembali kawasan tersebut sebagai salah satu objek wisata yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Telah berkali-kali kaki ini berada disana, setiap masanya ia memanggil kembali untuk menikmati sepotong cinta yang terpendam. Mbaho ga Mira bukan lagi kisah Mitos atau ibarat perawan yang menutup diri. Sepotong cinta yang terpendam telah disemai, telah tumbuh dan berkembang. Matahari tidak mengeluh lagi, congkaknya belukar telah berubah ramah, meski raut ketegasan tidak sirna.

Namun, hati tertepuk cemas membias pada harap. Akankah semua ini tetap terlestarikan? Bila jiwa-jiwa congkak, egois dan serakah menjarah, menyampah dan kasar merangsek tempat ini? Kami tidak ikhlas, kami tidak ingin manusia penikmat tanpa sadar membunuh cinta di tempat ini. Cukup sudah kisah tragis yang sebelumnya. Jangan merusak yang telah dicipta Sang Ilahi. Mbaho ga Mira menanti cinta yang sungguh tulus, menabur kebajikan dan berbuah berkah. Alam ini jangan dirusak lagi, mari menjaga dan melestarikannya.

Sungguh, di Mbaho ga Mira kita temukan cinta sang alam, kita diberi ruang menyadari ketidakmampuan, kita diberi kesempatan untuk bersyukur dan acapkali dalam refleksi tiap pribadi, kita dapat temukan Sang Khalik yang menyapa kita dengan segenap cintaNya.

 

Penulis :

“Soeloeng”

Be Smart, Read More Artikel dari Penulis

Comments

Loading...