Cegah Pekerja Anak, Dinas P5A Sosialisasikan Kontrasepsi Aman bagi Kelompok Perempuan Kampung Remeling Gunungsitoli.

0 691

Kampung Remeling terletak di Jalan Karet Lingkungan I, Kelurahan Ilir, Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli. Meskipun berada di tengah-tengah kota, Kampung Remeling merupakan sebuah kompleks hunian kumuh yang ada di pinggiran Sungai Nou, salah satu sungai terpanjang di wilayah Kota Gunungsitoli yang juga merupakan sumber penghasilan sebagian besar penduduk di wilayah itu.

Mayoritas penduduk di Kampung Remeling adalah warga pendatang dari Kabupaten lain di Kepulauan Nias semisal dari Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan. Warga pendatang ini, sebagian besar belum mengurus surat pindah dari Kabupaten asal dan ada juga yang belum memiliki dokumen kependudukan baik dari Kabupaten asal maupun dari Kota Gunungsitoli. Umumnya, warga di Kampung Remeling ini mencari nafkah dengan memulung.

“Selain itu, sebagian besar penghuni di kompleks ini merupakan kumpulan orang-orang yang termarjinal yang terdesak akan ekonomi, masalah pengangguran, diskriminasi hak anak dan gender, PHBS, anak putus sekolah, buruh anak, sampai masalah pemakaian kontrasepsi yang minim pengetahuan, telah menjadi sistem kehidupan sosial warga Remeling” ujar Agata Wilnaria Telaumbanua, Staf PKPA Nias bidang Pendamping Masyarakat dan Keluarga.

Tahun 2016, PKPA Nias melakukan pendampingan pencegahan pekerja anak yang dikemas melalui program Star Impact, dengan target grup anak-anak pemulung yang rentan drop out atau bahkan sudah putus sekolah. Tujuan akhir program ini me-reintegrasi anak-anak pemulung yang putus sekolah kembali ke sekolah formal serta meningkatkan pemahaman dan kesadaran orangtua untuk tidak mempekerjakan anak pada sektor terburuk.

Pada akhir tahun 2016, pendampingan dilanjutkan dengan membentuk kelompok usaha mikro keluarga bagi orangtua, khususnya perempuan untuk meningkatkan kemampuan dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Maka terbentuklah kelompok perempuan “Sehati: yang beranggotakan 11 kepala keluarga. Berbagai pelatihan pun diberikan untuk peningkatan pengetahuan anggota kelompok dalam mengelola ekonomi keluarga. Pembentukan kelompok perempuan dengan model pendampingan di bidang pengelolaan ekonomi keluarga diharapkan dapat memberikan wawasan bagi orangtua khususnya para ibu dan dampak signifikan dalam pencegahan pekerja anak di kompleks tersebut.

Pada Selasa (26/09/2017) PKPA Nias bekerjasama dengan Dinas P5A (Pengendalian Penduduk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Kota Gunungsitoli mengadakan sosialiasi pemakaian kontrasepsi yang aman bagi kelompok perempuan di kompleks ini. Turut hadir Kepala Dinas P5A Soginoto Dakhi dalam sambutannya mengatakan bahwa selain penyuluhan tentang pemakaian kontrasepsi, dirinya akan mengupayakan untuk berkoordinasi dengan dinas terkait agar tong sampah dan air bersih dapat diakses oleh warga di kompleks Remeling.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Gunungsitoli agar anjing peliharaan warga dapat disuntik rabies.” Lanjutnya. Hal tersebut dikatakannya setelah melihat banyaknya tumpukan sampah selain barang yang dipulung, menggunung dan berserakan di sekitar hunian. Juga dengan adanya sejumlah anjing yang berkeliaran.

Sedangkan dalam pemaparannya, Hotmonaria Damanik, Kepala Seksi Jaminan dan Pembinaan Kesertaan ber-KB Dinas P5A Kota Guunungsitoli memberikan penjelasan tentang ragam jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan serta memberikan rekomendasi cara kontrasepsi yang sebaiknya digunakan oleh tiap-tiap ibu dalam kelompok Sehati tersebut.

“Cara kontrasepsi yang sebaiknya digunakan disesuaikan dengan jumlah anak, kondisi kesehatan, dan usia saat menikah. Meskipun saya sudah memberikan rekomendasi seperti ini, namun silakan para ibu-ibu ini mendiskusikan lagi di keluarga, apakah ibu atau bapak yang akan menggunakan kontrasepsi tersebut” ujarnya.

Di tempat terpisah, Manajer PKPA Nias Chairidani Purnamawati menjelaskan bahwa dikarenakan setiap keluarga di kompleks ini memiliki banyak anak, juga menikah di usia muda yakni di bawah 20 tahun, rata-rata menikah di usia 18 bahkan ada yang memiliki 8 orang anak dalam sebuah rumah yang tidak layak huni. Kondisi ibu dan 8 orang anak yang masih kecil juga cukup memprihatinkan dan sakit-sakitan, maka penyuluhan ini bermaksud agar setiap anggota kelompok memahami jenis dan manfaat pemakaian kontrasepsi.

“Selain itu juga memberikan wawasan tentang pengaruh banyak anak tanpa dukungan ekonomi yang sehat, lambat laun akan menjadikan anak sebagai pekerja atau buruh anak. Maka dari itu kesadaran orangtua untuk mencegah kehamilan sangat dibutuhkan untuk mencegah anak menjadi korban dan dipekerjakan dalam sektor terburuk.” Imbuh Chairidani. <zen>

 

Be Smart, Read More Artikel dari Penulis

Comments

Loading...