Menengok Usaha Saringan Air Nur Khatdrin Gulὃ

0 4.286
Sumber Gambar: Ibu Nur Khatdrin Gulo sedang menjahit

Anda tentu tidak asing lagi dengan benda yang satu ini. Beberapa dari kita tentu mengenal saringan air yang terbuat dari kain blacu diberi gagang kawat besi. Biasanya kita membelinya di toko-toko yang menjual barang pecah belah di sekitar kota Gunungsitoli dengan ukuran yang beragam. Saringan digunakan setelah kita merebus air untuk memisahkan kapur yang mengapung di permukaan air yang mendidih. Sehingga hasil air yang kita dapat akan lebih jernih dan kandungan kapurnya akan lebih sedikit daripada bila kita tidak menyaringnya.

Tak banyak yang tahu, ternyata saringan air tersebut adalah buatan seorang ibu sederhana bernama Nur Khatdrin Gulὃ(52). Beliau biasa dikenal dengan sebuatan ina Umi. Rabu(3/2/2015) saya diberi kesempatan untuk menemui janda empat anak ini di rumahnya yang sederhana di lingkungan 4, Tohia pantai, kelurahan Ilir, kecamatan Gunungsitoli, kota Gunungsitoli.

Sudah sekitar dua puluh tahun Khatdrin menjalankan usaha pembuatan saringan air bersama almarhum suaminya, Amirdin Gea.

“ Waktu bapak masih ada, kami membuat saringan goreng, tempat telur, panggangan ikan dan saringan air ini. Bapak yang memasang kawat karena tenaganya lebih kuat. Saya menjahit saringan dan menjual ke toko-toko, “ Ujar Khatdrin kepada saya.

Proses pembuatannya sebenarnya tidak sulit, tapi membutuhkan tenaga yang kuat. Khususnya saat membengkokkan kawat untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Kawat yang digunakan adalah kawat baja yang banyak dijual di toko-toko bangunan.

Dua tahun yang lalu, Amirdin Gea meninggal karena darah tinggi. Setelah kepergian sang suami, Khatdrin melanjutkan usaha sang suami. Dengan modal  dan tenaga yang terbatas, ibu yang kini dibantu oleh kedua anaknya yang belum menikah.

“ Ukuran saringan air yang kami buat berbeda-beda. Ada yang kecil, sedang dan besar. Lapisan kain belacunya pun berbeda-beda. Ada yang hanya satu lapis, dua lapis bahkan tiga lapis. Semakin tebal lapisannya, harga saringan airnya semakin mahal, “ Ujar Khatdrin.

Dalam sehari Khatdrin mampu membuat sebanyak 20 lusin saringan air berbagai ukurans sesuai pesanan toko. Rata-rata toko yang menjual barang pecah-belah di kota Gunungsitoli adalah pelanggan tetap.

“ Untuk saringan air selapis yang kecil saya jual 18.000rupiah/lusin, ukuran sedang 25.000 rupiah/lusin dan ukuran besar 30.000rupiah/lusin. Ada lagi yang paling mahal pegangannya dari kuningan dengan tiga lapis belacu saya jual 25.000/buah. Semakin banyak lapis belacunya semakin mahal harganya, “

Dari hasil membuat saringan air, Khatdrin mampu membiayai kedua anaknya yang kini masih tinggal bersamanya. Selain itu dia mampu memperbaiki sedikit demi sedikit rumah BRR yang sudah ditempatinya kurang lebih selama 7 tahun itu.

“ Pokoknya cukuplah. Ada toko yang memesan saringan air tiap minggu. Ada juga yang tiap dua minggu. Rata-rata mereka pesan antara 50-80 lusin tiap kali pesan. Sehingga modalpun jadi cepat perputarannya, “ Ujar Khatdrin kepada NBC.

Meskipun usahanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Khatdrin punya cita-cita untuk memperluas usahanya seperti saat mendiang suaminya masih hidup.

“ Kalau ada tambahan modal, saya ingin membeli peralatan perkakas baru, supaya pekerjaan bisa lebih cepat dan rapi. Tapi seingat saya, sejak kami mulai usaha ini sekitar dua puluh tahun yang lalu sampai sekarang, belum ada satupun perhatian dari pemerintah daerah. Ya sudah saya tetap jalan saja, “

Khatdrin Gulὃ menatap masa depan usahanya secerah senyum ramah yang tidak pernah lepas. Tanpa mengharapkan bantuan dari siapapun, roda perputaran ekonomi mikro usaha rumahan kota gunungsitoli menggeliat ke arah yang pasti. Kemandirian. Namun, adakah yang peduli untuk mmbantu? [Ketjel Zagoto]

Be Smart, Read More Artikel dari Penulis

Comments

Loading...