Sepenggal Cerita Tentang Keadaan Desa Somölo-molö

0 812

Gelap telah beranjak dari malam yang sunyi, bunyian alam dan hewan malam tadi seolah menjadi lagu pengantar tidur dan penghilang sepi. Matahari pun bergegas bangkit dari peraduaannya, memancarkan cahaya hangat yang menerobos masuk ke lubang-lubang dinding kayu rumah warga, tak lupa menyapa pohon-pohon karet yang menjulang tinggi bekas sadapan kemarin. Burung pipit yang hinggap di ranting yang lembab menghiasi pagi yang cerah.  Anak-anak kecil pun keluar rumah bermain-main di tengah kebun sambil membawa peralatan untuk menyadap karet.

Di sini, Desa Somölo-molö, Pulau Nias, nampak matahari tak pernah bosan menghangatkan semangat para pekerja yang seharian bekerja di kebun. Berangkat sepagi mungkin agar sekiranya pundi-pundi sadapan karet lebih melimpah dari kemarin, meninggalkan anak-anak kecil yang bermain sendiri sekaligus bertugas menjaga rumah. Menahan sengatan serangga atau hewan liar yang sedikit menambah motif kulit, ataupun menikmati aroma karet yang sangat menyengat dan khas. Dari pagi ke sore di setiap harinya, lelah menjadi kawan setia, kotor dan aroma tidak sedap menjadi busana terhormat, serta jarak rumah ke kebun yang cukup menambah ukuran betis seolah menjadi endorphin pembakar semangat kerja.

Di sini, enam orang yang menyebut diriya pemuda telah menikmati hidup beraroma alam liar selama sebulan lebih. Meninggalkan kenyamanan dan kerinduan di kampung halaman demi niat baik untuk bangsa. Berasal dari daerah dan profesi yang beragam dan menjadi pelengkap serta penguat tim nusantara sehat, laskar somölö-mölö. Berbekal pelatihan mental, fisik serta keilmuan dan profesi, kami mulai menjalankan sedikit visi kesehatan dari pemerintah pusat melalui pelayanan primer di tingkat puskesmas. Semboyan kemenkes yakni membangun Indonesia dari pinggiran terasa nyata di depan kami, di hadapakan masalah klasik bumi ibu pertiwi yakni kemiskinan dan ketidaktahuan yang seolah menjadi nyanyian wajib para pemuda penerus cita-cita bangsa.

Sebulan lebih, telah kami lalui dengan rasa yang beragam, sedih, bahagia, dongkol, kecewa, prihatin, bosan serta rindu yang mencuat kesana-sini, terlalu banyak hingga tak muat lagi di dalam dada. Di hari-hari pertama penempatan, rasa ketidakterimaan akan kondisi sekarang tentu saja menjadi sarapan kami setiap paginya. Susahnya akses air bersih, mengharuskan kami telaten menadah air hujan ataupun mengambil air di sumber mata air di jurang belakang puskesmas, kemudian jaringan listrik yang belum menyinari kehidupan kami membuat kami lebih hemat listrik sehingga sedikit menyelamatkan energi bumi.

Pun jaringan komunikasi yang belum memadai menjadikan kegiatan bermain handphone lebih seru dan menantang. Berjalan kesana kemari mencari spot jaringan yang kuat hingga bertengger di bawah tiang bendera. Terlebih lagi suasana  sepi yang kami rasakan karena berada di tengah hutan. Sedikit lebih menantang dibandingkan pengalaman hiking ketika di kampung halaman. Dan juga meskipun kami menjadi minoritas disini namun persaudaraan tetap kami rasakan. Kehangatan para warga yang tak lelah mengirimkan kata ya’ahowu kepada kami selalu menjadi penarik senyum kami serta pelipur hati yang rindu.

Tidak hanya pengalaman berharga dan pelajaran penting yang kami dapatkan di desa ini, tapi juga banyanya potret realita para warga desa yang mulai memilukan hati kami. Kemiskinan yang seakan menjadi kawan lama para warga sebab sumber penghasilan dari pundi karet yang menyengat hanya sedikit membantu keuangan keluarga. Menarik pola-pola garis yang indah di kulit pohon karet yang sudah siap panen, seakan masih kurang untuk mengenyangkan perut anak-anak di rumah. Para wanita dewasa dan anak gadis yang turut membantu di kebun, mengorek-ngorek tanah agar makanan ternak babi menjadi lebih subur. Lahan yang mengganggur lebih dimanfaatkan mereka untuk ditanami makanan ternak. Singkatnya para warga lebih memilih menanam makanan ternak dibanding menanam sayur untuk kebutuhan dapur, miris.

Masalah kesehatan lebih menyedihkan lagi. Puskesmas yang kami tempati hanya sedikit dimanfaatkan oleh warga sekitar. Akses yang jauh dan jalanan yang sulit bukan menjadi penyebab utama, melainkan kurangnya kesadaran, keinginan dan sedikit kepercayaan mereka akan bahaya ketika berobat di puskesmas menjadi alasan kuat bagi mereka. Peralatan dan perlengkapan medis menjadi rusak karena tidak pernah dirawat bahkan belum sama sekali dimanfaatkan, stok obat dengan sendirinya menghampiri masa kadaluarsanya. Ruangan-ruangan berdebu dan sangat berantakan, tidak adanya dokumen pelayanan dan data berobat pasien untuk status kesehatan warga.

Pelayanan antenatal dan persalinan hampir tidak pernah dilakukan di puskesmas. Kentalnya budaya warga dan pengaruh kuat dari para dukun, membuat mereka lebih senang bersalin di rumah dengan alat dan ketrampilan yang terbatas. Tak sedikit merenggang nyawa ibu dan bayinya. Tak hanya itu, masalah gizi juga tak kalah primadona. Tingginya angka kemiskinan, kurangnya pengetahuan, tidak tersedianya pangan yang beragam, jauhnya akses untuk memperoleh bahan makanan serta adat dan budaya tentang tabu makanan menjadikan jumlah bayi, balita dengan gizi buruk menyumbangkan angka yang banyak pada presentasi gizi buruk di provinsi sumatera utara.

Tidak hanya itu, wanita usia subur, ibu hamil dan menyusui juga rentan terhadap berbagai masalah gizi seperti anemia, KEK (Kurang Energi Kronik), gizi buruk  hingga penyakit menular. Begitu pula masalah sanitasi dan lingkungan. Sulitnya sumber air bersih, kurangnya sarana dan akses sanitasi seperti septic tank, jamban,  yang hampir tidak ada. Para warga menyiasatinya dengan membuat jamban sederhana dan terbatas yang katanya bersahabat dengan alam.  Hal itu membuat jumlah bayi atau balita yang menderita diare dan penyakit ispa cukup banyak.

Berangkat dari permasalahan-permasalahan tersebut kami mulai melakukan sedikit perubahan. Berawal dari pembenahan puskesmas yakni pemilahan obat-obatan yang kadaluarsa serta penataan stok obat yang masih layak pakai. Penataan ruangan bersalin, membuat kartu rekam medik, pemanfaatan peralatan dan perlengkapan medis serta lainnya. Satu persatu fisik dan pelayanan puskesmas mulai kami benahi, semampu kami. Memasang poster kesehatan, menata perlatan-peralatan puskesmas yang masih bias digunakan dan lainnya.

 

Penulis :   Mudalifah (Tenaga kesehatan nusantara sehat)

Editor    :  Febriwan Harefa

Be Smart, Read More Artikel dari Penulis

Comments

Loading...